AskMusa.org

Derma

Don Isaac Abarbanel bekerja sebagai menteri keuangan untuk pemerintahan Ferdinand dan Isabella sebelum pengusiran orang-orang Yahudi dan Muslim dari Spanyol pada tahun 1492. Konon, dia pernah mengatakan bahwa semua yang dia miliki telah ia berikan kepada orang lain.

Memberi amal kepada orang-orang miskin mempunyai tempat istimewa di antara 613 firman dalam Taurat. Sebenarnya kata "amal" adalah penjelasan yang keliru dan menyesatkan untuk ajaran sepenting ini. Amal menunjukkan pemberian sesuatu yang Anda sendiri tidak memiliki kewajiban untuk memberikannya. "Sedekah" bagi umat Yahudi bermakna kebajikan, yang menunjukkan bahwa apa yang kita berikan pada orang lain adalah hak milik mereka.

Bible Yahudi menyuruh kita untuk membuka tangan dan memberi pada kaum miskin. (Deuteronomi 15:10). Pesan memberi kepada orang lain diperkuat dengan berbagai firman yang lain. Seorang Yahudi yang menanam benih di tanah Israel-tempat di bumi yang hidup oleh firman-firman Allah yang dianggap memiliki kekuatan spiritual yang lebih-harus menyisihkan tidak kurang dari sepuluh bagian dari apa yang ia hasilkan untuk orang lain. Sebelum dia menanam, dia harus menyediakan untuk Rahib, calon Rahib, dan orang-orang miskin. (Beruntung bahwa orang Yahudi yang taat di seluruh dunia yang membaca tentang roti hingga hari ini memiliki sepuluh kata, mengingatkan sepuluh kewajiban-kewajiban ini). Petani Yahudi di Tanah Israel harus menyisakan pojok sawahnya untuk orang miskin, atau menjatuhkan benih dari hasil panennya, dan tidak mengikat dengan keras karung beras di belakangnya. Dengan begitu orang-orang miskin bisa mengumpulkan butiran padi yang dibutuhkan dengan tetap memiliki kebanggaan sebagai hasil kerja sendiri, tanpa perlu merasa malu meminta-minta sedekah. Sekali dalam setiap tujuh tahun, ladang-ladang dibiarkan kosong, dan apa pun yang tumbuh di atasnya boleh dipetik oleh siapa saja, meniadakan perbedaan antara si kaya dan si miskin.

Kembali ke zaman Bible, umat Yahudi belajar bahwa pemilikan tidaklah bermakna hak milik, bahwa keberhasilan seseorang dalam semua usahanya adalah hasil berkah Tuhan, dan bahwa keberkahan seringkali diperuntukan bagi orang lain. Dia hanya diberi hak untuk menjadi pemelihara. Firman yang memerintahkan untuk memberi amatlah penting, bahkan orang miskin pun dituntun untuk memberi kepada orang miskin yang lain.

Hukum Yahudi mengajarkan bahwa tidak ada hari besar yang pantas dihadiri kecuali orang-orang Yahudi mengundang orang-orang miskin ke pesta mereka. Di Polandia pada abad ke-17, Dewan Tanah Empat mengatur bahwa untuk setiap sepuluh orang diundang ke suatu pernikahan, sebuah ruang harus dibuat di pesta pernikahan untuk satu orang miskin. Di masa yang lebih modern orang Yahudi berkumpul pada hari Kamis untuk meletakkan keranjang makanan untuk dikirim kepada orang-orang miskin sebelum Sabbat. Pada upacara doa harian, sebuah kotak amal dikelilingkan di antara para jamaah, memungkinkan orang untuk melakukan kebiasaan memberi amal dalam setiap sembahyang. Bagian terbesar dari derma berasal dari sumbangan-sumbangan yang lebih besar, berjumlah antara sepuluh dan dua puluh persen dari seluruh pemasukan untuk keluarga-keluarga tradisional. Bahkan dalam situasi yang mengerikan di ghetto-ghetto selama peristiwa Holocaust oleh tentara Nazi, organisasi-organisasi amal masyarakat dikelola untuk orang-orang miskin untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan.

Pada masa Talmud, lebih dari seribu lima ratus tahun lalu, aturan-aturan ini sudah dijalankan oleh masyarakat yang terorganisasi. Setiap lokasi dituntut untuk memiliki pelaksana untuk memberi makan kepada kaum miskin sesuai keperluan sehari-hari, dan dana lain untuk memberi bantuan bagi kebutuhan jangka panjang seperti pakaian. Orang juga memberi hal-hal yang bernilai, mengikuti rumusan bahwa kewajiban terbesar adalah terhadap kebutuhan lokal sebelum membantu kota-kota yang jauh. Ada aturan yang menentukan siapa yang berhak menerima bantuan, dan bagaimana memprioritaskan bantuan ketika tidak ada uang yang cukup untuk dibagikan. Mengumpulkan dan membayar dana adalah sebuah kehormatan yang dimiliki orang dengan reputasi luhur dan mengerti hukum.

Di Fustat, Mesir, pada abad pertengahan, Filosof dan ahli hukum besar Musa Maimun menulis tentang hirarki memberi. Sedekah yang baik adalah ketika si penerima tidak tahu si pemberi dan si pemberi tidak tahu jati diri si penerima, suatu hal yang meminimalkan rasa malu dan menutup harapan menerima sesuatu sebagai imbalan. Namun lebih baik adalah memberi pinjaman kepada orang miskin atau sebaliknya membantu mereka mencari nafkah sehingga mereka tidak perlu menerima sedekah.

Menurut tradisi Yahudi, umat Yahudi tidak pernah diharuskan untuk "menguji" Tuhan dengan menghubungkan perbuatan mereka dengan ganjaran dari Tuhan. Ada sebuah pengecualian. Kita diminta oleh Tuhan untuk memberi lebih banyak sedekah dengan jaminan bahwa orang tidak pernah kehilangan dengan apa yang dia berikan. Tuhan membalas mereka yang memberi dengan banyak keberkahan kini dan di sini, bukan hanya di akhirat kelak. Umat Yahudi dituntun oleh rasa tanggung jawab dalam memberi. Ketika ada orang miskin dalam sebuah keluarga, mereka mesti datang sebelum yang lain. Orang miskin di lingkungan sendiri yang dikenal, di kota sendiri, dibantu sebelum yang jauh. Dengan cara ini, umat Yahudi diajari untuk lebih memperhatikan masalah-masalah yang dekat dengan lingkungan mereka-suatu etika yang meluaskan kemungkinan bahwa orang miskin di mana pun tidak akan diabaikan. Pada saat yang sama, umat Yahudi diperintahkan untuk membantu mereka yang sepenuhnya berada di luar komunitas mereka, dan memberi makan orang-orang miskin non-Yahudi selain saudara seiman mereka. Di dunia Barat, sulit kiranya menemukan komunitas Yahudi dalam jumlah yang besar di mana rumah-rumah sakit dan lembaga-lembaga pelayanan sosial tidak dibiayai oleh orang Yahudi untuk keperluan masyarakat umum.

Pikiran yang mengilhami

Pemakaman untuk anak Rabi Tshebin sudah siap dimulai, namun sang ibu tidak tampak di antara keluarga yang duduk bersama dalam keadaan duka karena rasa kehilangan. Suaminya tidak akan memulai upacara pemakaman tanpa sang istri. Orang mulai mencari-cari, dan tidak perlu mencari terlalu jauh. Dia tampak berada di antara para pelayat di belakang, berjalan di antara mereka sambil memegang sebuah pushka (kotak pengumpul amal). Mereka mencoba mengantarkannya kembali ke tempat duduk, tapi dia menolak. "Saya sudah biasa mengumpulkan uang untuk orang-orang miskin di semua upacara pemakaman. Mereka harus hidup. Hanya karena anakku yang mati, kenapa orang-orang miskin harus kehilangan ini?"

Diterjemahkan oleh LibForAll Foundation.
LibForAll Foundation adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan
dunia yang damai berdasarkan nilai-nilai luhur agama
di bawah bimbingan dan perlindungan
Yang Mulia KH. Abdurrahman Wahid dan para ulama lain.

 

AskMusa Now!

2007 AskMusa.org | All Rights Reserved

Kintera Empowered Community