AskMusa.org

Doa

Pada abad 12 M, Rabbi Abraham b. Meir ibn Ezra menulis, bukanlah suatu hal yang mengherankan bahwa kita begitu sering berdoa. Yang mengherankan, kata penyair besar dan komentator Bible Spanyol itu, adalah jika kita tidak sering berdoa. Orang yang tahu Tuhannya dengan benar akan merasa dirinya senantiasa dipenuhi dan diliputi oleh Keberadaan Tuhan, bahwa yang mampu dia lakukan hanya sedkit saja.

Ada tradisi yang membuat hidup begitu indah dulu pernah dijalani, yakni menghadiri kesempatan doa bersama di waktu-waktu tertentu. Melalui berbagai macam bentuk doa, orang-orang Yahudi menyampaikan pikiran dan kata-kata surgawi berkali-kali dalam sehari.

Kata kerja (verb) untuk doa dalam bahasa Yiddi adalah daven. Tidak ada yang bisa melacak asal-usul kata tersebut secara memuaskan. Sebuah teori menyebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa Arab, da'awa.

Waktu-waktu resmi untuk doa tertentu berbeda tergantung harinya. Dalam Yom Kippur, hari tersuci dalam setahun, terdapat lima layanan doa. Sabbat, hari-hari libur, dan Rosh Chodesh, memiliki empat layanan doa, tiga pada hari-hari biasa setiap tahun. Namun bentuk-bentuk doa yang lain memperluas cara ini pada banyak macam percakapan dengan Tuhan, khususnya melalui berachot, keberuntungan yang diingat orang Yahudi sebelum melakukan perbuatan baik serta sebelum dan sesudah makan dan minum. Ada bentuk-bentuk doa non-verbal. Seperti suara Shofar di Rosh Hashanah yang bisa dipahami sebagai tangisan dari dalam jiwa.

Doa bukan sekadar permintaan. Sejatinya, doa adalah percakapan dengan Tuhan. Karena manusia tidak bisa memelihara hubungan yang baik dengan orang yang dicinta tanpa saling berbicara, begitu pula doa mempererat hubungan dengan Tuhan. Itulah sebab mereka yang bedoa memuji dan bercakap dengan Tuhan-selain meminta segala yang diinginkan.

Doa kaum Yahudi dilakukan di mana saja, namun doa bersama-termasuk doa harian yang tetap-lebih sering dilakukan di Sinagog. Sinagog ini tidak perlu sebuah gedung besar yang mengesankan. Di banyak masyarakat, justru ada kecenderungan untuk memiliki Sinagog kecil dengan ruang yang lebih akrab, di mana setiap orang merasa dapat memberi kontribusi yang besar. Beberapa Sinagog memiliki sebuah tabut (ark) di latar depan di mana lembaran-lembaran Taurat (yang ditulis dengan apik di atas kulit) tersimpan, lebih ke tengah lagi ada meja baca tempat Torah diletakkan tatkala ia dibaca (pada Sabbat, hari-hari libur, dan pada dua hari biasa dalam seminggu) dan sebuah podium tempat pembaca doa berdiri. Ada juga kursi-kursi dan mungkin meja di depan tempat jamaah berkumpul, serta sejumlah buku. Karena Sinagog merupakan tempat suci, maka orang-orang Yahudi sering menghabiskan waktunya di sana untuk mempelajari Taurat. Jadi, buku-buku dalam Sinagog tidak selalu merupakan buku-buku doa, namun juga buku-buku penting lain mengenai ajaran Yahudi yang sudah berumur 3000 tahun. Sinagog juga memiliki semacam pembatas atau mechitzah, yang memisahkan laki-laki dengan perempuan.  

Sedikitnya, orang Yahudi akan datang ke Sinagog untuk tiga ritual doa yang ditentukan. Doa pagi pada hari-hari biasa lazimnya berlangsung sekitar 45 menit, sementara doa petang dan malam hari lebih singkat, masing-masing sekitar 15 menit saja. (Dalam beberapa Sinagog, doa petang dilakukan di ujung senja, karena itu doa malamnya bisa dimulai sesaat setelah jeda, yang berarti bahwa kedua doa itu bisa digabung dalam satu kali datang). Pada Sabbat dan waktu pagi di hari-hari libur, layanan doa mulai dari dua hingga tiga jam atau lebih; pada Yom Kippur, orang menghabiskan waktunya selama 24 jam di Sinagog, tanpa pulang ke rumah. Berkumpul dan berdoa secara bersama di Sinagog dinilai penting karena mengerahkan kebaikan kolektif, di mana kekuatan spiritual seseorang mengimbangi kekurangan yang lain.

Doa yang resmi menggunakan sebuah paket doa yang terhimpun dalam buku yang disebut Siddur. Sebagian besar dari doa-doa ini sudah sangat tua, bahkan ada yang menunjukkan waktu pada masa pewahyuan (Biblical times). Doa-doa dilantunkan dalam bahasa Yahudi, kecuali sedikit saja dalam bahasa Aramia, bahasa yang seasal dengan Yahudi yang digunakan dalam masyarakat Irak dan Israel kuno. Orang-orang Yahudi dianjurkan untuk menggunakan bahasa Yahudi, namun mereka boleh juga menggunakan bahasa apa pun yang mereka pahami. Ada beberapa buku terpisah untuk doa yang lebih panjang pada hari-hari libur. Doa yang tidak resmi bisa memakai kata-kata sendiri, walaupun demikian kitab Psalm dianggap sebagai bentuk ekspresi tertinggi dari doa Yahudi, dan sering digunakan ketika orang memanfaatkan sisa waktunya dalam doa kebaktian.

Orang-orang Yahudi punya banyak alasan mengapa orang perlu berdoa, meskipun Tuhan pasti tahu sepenuhnya apa yang dia butuhkan. Di antara alasan tersebut adalah:

a. Doa mengubah tingkat spiritualitas kita. Dengan berdoa secara benar kita menjadi orang yang berbeda dan lebih baik, serta lebih pantas dengan apa-apa yang kita minta.

b. Doa mendorong kita menggunakan pemberian Tuhan secara benar. Dalam pandangan orang Yahudi, Tuhan terutama adalah Pemberi. Sebagai Zat yang sempurna, Dia tidak bisa menerima. Adalah kehendak-Nya bahwa Dia memberi kita berbagai kebaikan supaya bisa kita manfaatkan dengan benar. Dengan mengetahui sumber pemberian yang Dia limpahkan, lebih mungkin bagi kita untuk menggunakan pemberian itu di jalan yang benar dan bermanfaat, dan bukannya menyalahgunakan pemberian tersebut, maklumlah kita manusia yang sering lalai dengan rezeki yang banyak.

c. Doa mengingatkan kita tentang apa yang mengatur hidup kita. Bahkan sebagai orang yang beriman, kita mudah kehilangan jati diri kita di dunia yang tampak seperti teratur dan sekaligus tak teratur ini, sementara ia tunduk pada hukum-hukum Alam yang bisa diuji. Tuhan mungkin berada di belakang kesadaran kita. Doa mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Penyebab di belakang segala sebab. Hanya Dia yang bertanggung jawab atas keberadaan dan kebahagiaan kita. Kalau kita tidak berdoa kepada Tuhan, kita berdoa kepada hal-hal lain yang kita yakini mengendalikan kehidupan kita.

Diterjemahkan oleh LibForAll Foundation.
LibForAll Foundation adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan
dunia yang damai berdasarkan nilai-nilai luhur agama
di bawah bimbingan dan perlindungan
Yang Mulia KH. Abdurrahman Wahid dan para ulama lain.

 

AskMusa Now!

2007 AskMusa.org | All Rights Reserved

Kintera Empowered Community